Suatu hari penulis terlibat obrolan ringan dengan Bapak penulis sendiri. Obrolan yang lumayan seru, karena Bapak bercerita tentang Jember tempo dulu. Disaat Jember masih menggunakan ejaan lama, Djember.
“Di Jember dulu ada radio yang namanya radio sukses”, sebuah awalan cerita yang terlontar dari Bapak.. Menurut bapak sebenarnya radio sukses bukanlah benar benar sebuah stasiun radio, melainkan hanya sebuah toko yang menjual piringan hitam. Akan tetapi karena setiap hari tertentu toko tersebut terbiasa memutar lagu lagu yang lagi digandrungi (di jaman itu), jadilah orang orang melabelinya dengan nama radio sukses.
Lokasinya dekat dengan studio photo angkasa (sekarang). Dulu namanya toko Young Ming. Masih menurut Bapak, stasiun radio tersebut eksis sekitar akhir tahun enam puluhan.
Sekarang radio sukses tersebut telah berganti nama dan fungsi menjadi toko jamu, masih di jalan Sultan Agung.
Selain Radio Sukses, masih ada lagi radio radio yang beroperasi kala itu.
1. Radio Angkatan Muda.
Lebih populer dengan nama Radio RAM.
Berlokasi di Jalan Dr. Soebandi (sekarang berganti nama menjadi jalan Nusa Indah). Tepatnya di depan kanan SMPN 10 Jember, rumah Dr. Arman.
2. Radio Kannasta.
Juga berlokasi di jalan Dr. Soebandi (Nusa Indah).
Di Rumah Dokter Gigi Vander Heide.
Yang terkenal anaknya, namanya Polce (Masih menurut Bapak).
3. Radio Semeru 5.
Ada di Jalan Semeru No. 5
Sekarang jadi jalan Wijaya Kusuma. Gedung Radio Semeru lima pernah dijadikan gedung Bank Bumi Daya (BBD), dan kini berganti lagi menjadi Bank mandiri?
4. Radio Hasanudin
Bertempat di rumah Jenderal Syafiudin, Mayor pada saat itu.
Sekarang nama lokasi nya menjadi jalan PB. Sudirman.
5. Gezina X 17
Jalan Ciliwung (sekarang). Ada di samping SMPN 2 Jember.
6. Radio Faperta
Radionya Fakultas Pertanian Universitas Jember.
7. Radio SAA 7.
Ada di jalan SAA No 7.
Sekarang menjadi Jalan KH. Ahmad Dahlan, rumah dari Mayor Kirman.
8. RKPD
Radionya Pemerintah Daerah. Bertempat di kantor Pemerintah Daerah, Jalan Sudarman No. 1. Disebelah kiri gedung, pojok depan.
9. Radio Kartika AM
10. Radio Akbar AM.
11. Lain lain adalah Radio Amatir.
Seiring berjalannya waktu, ada aturan baru mengenai radio. Ijin membuka usaha radio dimahalkan, jadi tidak semua stasiun radio bisa membayarnya. Hanya beberapa yang eksis. Diantaranya Akbar AM dan Kartika AM. Kedua stasiun radio ini akhirnya mengubah jenis gelombangnya menjadi Frekuensi Modulation.
Para netter, mohon maaf bila data ini terlihat sangat subyektif. Penulis hanya mencoba menggali Jember dari sisi sejarah lisan. Kalau misalnya ada yang berinisiatif untuk menambah dan menyempurnakan info, penulis sangat berterimakasih sekali.
Wassalam..
Rabu, 19 Agustus 2009
Stasiun Radio Jember Tempo Dulu
Label: jember kenangan, jember lawas, radio jember, radio kunoSabtu, 08 Agustus 2009
Tajemtra
Label: TajemHari ini, 08 Agustus 2009 Jember lagi punya gawe. Apalagi kalau bukan tajemtra. sebuah gerak jalan tradisional sepanjang kurang lebih 30 kilometer dari Tanggul sampai Jember kota. Acara ini adalah acara yang dapat dikatakan paling dibanggakan oleh masyarakat jember. Karena secara historis Tajemtra lebih mengakar daripada JFC yang sampai tahun ini bergelimang pujian.
Sayangnya, pada hari ini banyak peserta Tajemtra yang tidak berangkat dari start, melainkan mengambil jalur memotong. Sungguh ironis.
Padahal sebelumnya panitia sudah mengagendakan untuk lebih melakukan perbaikan dan pengetatan,setidaknya lebih baik dari Tajemtra sebelumnya. Contoh perbaikan yang dilakukan panitia adalah mengeluarkan peserta dari barisan apabila diketahui tidak memiliki kartu identitas.
Piala Mahmudi Cup III serta jumlah hadiah senilai 100.000.000 rupiah ternyata belum dapat membuat beberapa peserta tajemtra tampil sportif.
Awal adanya Tajemtra adalah untuk menjunjung tinggi semangat olah raga. Namun sepertinya hal itu kini telah bergeser. Semangat olah raga tergeser manis dengan semangat hura hura sepanjang 30 kilometer.
Tajemtra oh Tajemtra..Ai eLof Yu..
Jumat, 05 Juni 2009
Jember semakin cantik saja..
Label: BBJSebenarnya penulis tidak berniat untuk menuliskan sesuatu di blog ini. Tapi kok ya ndak enak sendiri, sudah lama nggak menuliskan sesuatu tentang Jember di Jemberspot tercinta. Jadinya malah seperti blog tak bertuan saja, hehe.
Jember semakin cantik saja. Judul itu terbersit begitu saja di kepala penulis. Ya udah langsung comot daripada entar lupa. Memang dalam rangka menyambut BBJ tahun ini, jember tak henti hentinya mempercantik diri. Ada saja yang dipoles. Seperti seorang perawan yang lagi mekar mekarnya, seperti itulah Jember saat ini.
Tulisan ini bukannya hendak mendukung program BBJ dengan sebegitunya dan membabi buta. Bukan seperti itu. Hanya saja penulis sedikit memiliki pemikiran, bagaimana cantiknya kota Jember manakala program seperti ini dilakukan setiap hari. Tanpa harus menunggu datangnya bulan tertentu. Tanpa komando dari pihak pemerintah daerah. Tapi atas inisiatif dari masing masing individu. Wow, pasti menyenangkan.
Terlepas dari itu semua, tetap saja penulis salut atas program ini. Setidaknya Jember terlihat semakin cantik. Udah deh gitu dulu tulisan ini. Maaf kalau isinya kurang mengerucut. maklum, nulisnya di warnet dan memang lagi nggak sengaja nulis, hehe..
Terimakasih para netter..
Sabtu, 03 Januari 2009
Surat untuk orang – orang Jember
Label: Kota kecil Jember tersayangOrang2 Jember yang baik..
1 Januari 2009 beberapa hari kemarin adalah Hari Jadi Kota kita yang ke 80. Kalau diukur dari sisi manusia, usia ini memang sudah tua renta. Perot kempot pikun dan beruban. Masalahnya ini adalah usia sebuah daerah. Tidak sama dengan kakek nenek kita. Masih sangatlah muda, bersemangat dan lebih fres tentunya.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kesempatan terbuka lebar untuk membawa kota ini ke arah yang lebih baik. Ibaratnya Jember adalah seorang pendaki gunung, masih segar segarnya. Beban yang dibawa pun lebih dari cukup. Kita tidak membawa beban masa lalu yang sebegitunya. Kita masih berwarna warni. Tidak hanya antara hitam dan putih saja.
Terserah kita mau menyumbangkan waktu, tenaga, biaya atau apalah. Terserah. Pilihan ada di tangan kita. Kita bisa belajar dari semua daerah dari sabang sampai merauke. Kita merdeka untuk merenungkan hal2 apa saja yang pernah terjadi di segala pojok dunia. Mulai dari Mongol, Daratan timur tengah, Eropa, Afrika atau mana saja. Silahkan pilih mana2 dari sejarah perjalanan mereka yang bisa kita jadikan inspirasi. Mari kita ambil yang baik2 untuk wilayah kita sendiri.
Sebuah anugerah tersendiri manakala kita bisa terinspirasi oleh itu semua. Bisa jadi kita akan memiliki semangat orang2 Mongol abad 12 – 13. Atau semangat sebelum2nya. Dari perkembangan Agama Islam ada begitu banyak semangat bertebaran dari orang2 hebat. Barangkali itu terlalu jauh. Oke mari kita telusuri sejarah Nusantara sebelum penjajahan. Ada banyak cerita disana. Bagaimana hebatnya orang2 Madura di daerah perantauan. Belum lagi tentang jiwa berkesenian orang2 Jawa yang teramat tinggi. Orang2 Sunda, orang2 Bugis, orang2 Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan masih banyak lagi.
Ini tentang semangat dan rasa kepemilikian. Lebih tepatnya semangat untuk berkarya. Lebih mengerucut lagi adalah semangat berkarya setidaknya untuk orang2 disekitar kita. Terlepas dari itu semua, mari kita hargai tradisi yang telah ada. Mari kita jaga semampu yang kita bisa. Atau mungkin hanya diam saja. Tapi setidaknya kita resah saat tradisi yang telah ada itu bergerak menghilang. Setidaknya kita “ngrenyeng” manakal melihat sekitar kita penuh sampah.
Secara politis Jember memang masih sangat muda. Tapi sebentar dulu. Bukan berarti kita tidak punya tradisi. Tidak perlu kembali ke masalah asli atau tidak. Kita sendiri juga belum tentu memahami apakah darah yang mengalir dalam tubuh kita adalah asli Indonesia. Benar2 asli atau tidak kita hanya bisa menelusurinya. Dan itu terbatas pada beberapa generasi diatas kita saja. Bagaimana kalau kata2 “asli” kita ubah dengan “khas” saja?.
Orang2 Jember dimanapun berada..
Musik Patrol mengajak kita bernyanyi. Tari Lahbako mengajak kita menari. Tajemtra mengajak kita berjalan jalan. Ada lagi yang terbaru, Jember Fashion Carnaval. Belum lagi yang lainnya. Semua mencuri perhatian kita, hanya karena ingin mendengar sapaan kita. Maka sapalah mereka. Menjadi penonton yang antusian itu sudah lebih dari cukup. Kalaupun harus ada yang kita pertanyakan, tanyakan saja. Siapa tahu dari pertanyaan yang sederhana bisa merubah ke arah yang lebih indah.
Orang2 Jember yang kreatif..
Sudah saatnya kita tidak lagi terjebak dengan kata kata. Disaat daerah lain sudah hilir mudik dengan kesenian daerahnya, kita masih disini. Bertanya tanya apakah ini asli apa bukan. Oke kalau memang itu butuh dan sangat mendasar, mari kita rame2 menciptakan kreasi baru. Hanya saja yang perlu diingat, jangan ada lagi lahbako volume dua. Disaat semuanya selesai, kita kembali bertanya Tanya, apakah ini asli atau bukan. Kalau dari sudut pandang saya, apa yang sudah kita punya maka itu yang harus didahulukan. Adapun tradisi2 yang lain itu akan lahir dengan sendirinya. Seiring dengan kita bertumbuh.
Orang2 Jember..
Tradisi2 diatas adalah khas Jember itu benar. Bahwa kita sangat kreatif itu juga benar. Bahwa kita berjalan sendiri sendiri itu bisa benar bisa tidak. Tergantung dari mana kita memandang. Yang menjadi kurang benar adalah pada saat kita tidak mau berkarya. Dan itu akan menjadi tidak benar manakala kita sudah tidak perduli dengan apa yang terjadi disekitar kita.
Yang terakhir..
Ini adalah surat untuk orang orang Jember. Saya dititipkan Tuhan untuk lahir dan besar di Jember. Berarti surat ini untuk diri saya sendiri juga. Oleh karena itulah saya juga ingin berkarya. Semoga saya bisa berkarya sebaik dan semampu yang saya bisa. Dan alangkah lebih indahnya jika saya tuliskan kembali disini kata2 yang sering saya dengar dari Mr. AA Gym. Mulai dari yang terkecil dan saat ini juga.
Jember Ai eLof yu..
Dari saya rakyat biasa..
Belajar dari Tuban..
Artikel yang hendak saya beberkan ini terinspirasi oleh semacam buku panduan. Dari Panitia Hari Jadi Tuban. Judulnya Panduan kegiatan peringatan Hari Jadi Tuban ke 708 (1293 – 2001). Semoga kita istimewanya rakyat Jember bisa belajar dari ini.
Panitia Hari Jadi Tuban terbentuk berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tuban Nomor 90 tahun 1986. Tim penggali Hari Jadi Tuban ini bekerja sama dengan beberapa pakar sejarah dari perguruan tinggi untuk penelitian dan pengumpulan data2.
Penetapan hari jadi tidak semata mata untuk menggali nilai sejarah dan pelestarian budaya daerah saja. Lebih dari itu untuk upaya membangkitkan sisi kepahlawanan Ronggolawe. Dengan tujuan untuk membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Tuban.
Upaya penelusuran ini melalui beberapa tahap (kriteria) yaitu :
1. Membentuk tim penggali Hari Jadi Kabupaten Tuban dengan SK Bupati.
2. Tim melaksanakan tugas dengan tolak ukur (criteria) sebagai berikut :
a. Mencari sumber tertulis yang setua mungkin
b. Pengertian “Tuban” diharapkan sudah setingkat dengan Kabupaten sekarang
c. Hari Jadi harus mampu memberikan kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Tuban
d. Penentuan Hari Jadi merupakan “KEPUTUSAN POLITIK” dari Bupati Kepala Daerah.
e. Hari Jadi harus dapat merupakan pelestarian budaya daerah yang mengandung unsure semangat membangun bagi masyarakat Tuban
3. Menelusuri asal usul nama Tuban sebagai letak Kota Tuban.
Ada beberapa dasar sebagai alternative yang cukup jelas yaitu :
A. Berdasarkan Legenda ada tiga istilah sebagai berikut
1. Tuban berasal dari istilah Wa(Tu) Ti(Ban) yaitu pusaka kerajaan Majapahit berbentuk batu.
2. Tuban, yang berasal dari istilah Metu Banyune.
3. Tuban, dari istilah Jawa Nges (Tu)’ake Kuwaji (Ban).
B. Berdasarkan etimologi ada tiga macam :
1. Data Arkeologi, Peninggalan sejarah Archa Nandhim dan Arca Mahatula di Kecamatan Rengel. Menunjukkan jaman Singosari. Juga diketemukan pecahan keramik, batu bata dan prasasti Malengga dan Banjaran yang berangka tahun 1052 M
2. Data Geografis, Rengel terletak di tepi Bengawan Solo yang sangat strategis. Ditinjau dari segi ekonomi dan militer sangat mendukung pengembangan pusat pemerintahan
3. Cerita rakyat, Antara lain Lanjar Maibit dari kecamatan Rengel, Pangeran Purbaya dan peperangan antara Ronggolawe dengan Kebo Anabrang di Beron
C. Berdasarkan pendapat para ahli
Drs. M. Soekarto Kartoatmojo berpendapat bahwa Tuban berasal dari Tubo. Tubo adalah tanaman yang dapat diramu untuk membuat racun. Salah satu wilayah di Kabupaten Tuba nada yang bernama Jenu. Artinya sama dengan Tubo.
4. Menelusuri Hari Jadi Tuban dari sudut lintasan sejarah
a. Jaman Pemerintahan Airlangga sampai Kediri pada tahun 1042. Kerajaan Kediri dibagi menjadi 2 bagian yaitu Panjalu dan jenggala. Pembagian Negara Kediri ini bertautan dengan Tuban, baik letak maupun hubungannya.
Pada awal 1293 Tuban kembali menjadi percaturan sejarah karena peranannya. Pada masa Raden Wijaya membuka tanah di hutan tarik yang akhirnya menjadi besar yaitu Majapahit. Dari sinilah peranan Ronggolawe sangat besar sehingga diangkat sebagai Adipati Mancanegara di Tuban.
5. Penelusuran melalui sumber2 tertulis yang berkaitan dengan Tuban yaitu berupa prasasti (Prasasti kembang putih, Malengga, Banjaran dan Prasasti Tuban I & II. Juga sumber2 tertulis yang berupa naskah kuno. Diantaranya :
i. Kidung Harsa Wijaya , yang menyebut bahwa penobatan Raden Wijaya adalah pada “Purnen Kartika Masa Pancasidi Sukleng Catur5” yaitu tanggal 15 bulan Kartika. Atau tanggal 12 Nopember 1293 Masehi.
ii. Kidung Ronggolawe Pupuh XXV / 22 dan Pupuh XXV / 23
iii. Piagam Kudadu yang berangka tahun1294
iv. Piagam penenggungan Tahun 1296 Masehi
Jaman Singosari sampai berdirinya Majapahit tahun 1059 Kerajaan Jenggala mengalami masa surut tapi nama Tuban belum muncul dalam arena sejarah. Pada tahun1275 dalam surat Paraton disebut : “Sirna Panji Aragini Angeteraken Wangsul Ing TUBAN Teka Ring Tumepel Sang Panji Aragini Angeteraken sodohapati Dina Akhlasukan Sira Aji Kertanegara”.
Dengan demikian dapat disimpulkan sewaktu jaman Raja Kertanegara Tuban sudah menjadi kota yang besar. Juga sebuah Bandar pelabuhan. Hal ini terbukti (menurut Tim Penggali Hari Jadi Tuban) adanya tentara tar tar Dari Tiongkok yang menuju ke Singosari berlabuh di pelabuhan Tuban.
6. Berdasarkan beberapa penelusuran tersebut, ada beberapa alternative Hari Jadi Tuban, yaitu :
a. Tanggal 21 Agustus 1052 berdasarkan Prasasti Malengga
b. Tanggal 31 Agustus 1052 berdasarkan Prasasti Banjaran diketemukan di Plumpang
c. Tanggal 12 Nopember 1293 yaitu tanggal penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit yang diikuti pengangkatan para punggawa kerajaan. Salah satu Punggawa Kerajaan tersebut adalah Ronggolawe yang diangkat sebagai Adipati Mancanegara di Tuban
d. Tahun 1355 berdasarkan Prasasti Tuban I dan II yang ditemukan di Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang menyebutkan tentang pemberontakan di tepi sungai yang dapat dipadamkan oleh Ra Khuti Tuban
6. Atas dasar beberapa sumber data tersebut dan dengan memperhatikan kriteria poin 2, Tim Penggali menyimpulkan Hari Jadi Tuban jatuh pada tanggal 12 Nopember 1293. Bertepatan dengan diangkatnya Ronggolawe sebagai Adipati Mancanegara di Tuban.
Para netter, capek ya bacanya? Panjang beneran kan? hehe.. Sori.
Sesuai dengan judul artikel ini, Belajar dari Tuban, saya ingin mengajak warga Jember untuk rame2 berpikir kembali tentang Hari Jadi. Sampai saat ini masih ada beberapa pihak yang ingin meninjau kembali Hari Jadi kota Jember. Dan pintu menuju kesana terbuka lebar. Pihak Pemerintah Daerah mempersilahkan bagi siapa saja yang kompeten di bidangnya untuk mengadakan penelitian tentang ini. Sayang seribu saying, yang sering saya dengar hanyalah perbedaan pandangan saja. Ujung2nya saling menyalahkan. Kalaupun ada ujung2nya lagi, pasti alasannya adalah dana.
Sebenarnya adalah berita yang menyenangkan manakala banyak pihak yang menyoroti hal ini. Secara tidak langsung itu menunjukkan rasa kepemilikan yang tinggi warga Jember terhadap daerahnya.
Tuban mengajarkan bahwa usia tua bukan menjadi satu2nya yang dikejar. Sebenarnya Tuban bisa menjadi lebih tua dari usianya yang sekarang. Lebih tua hampir dua setengah abad. Tetapi Tuban memilih 1293 sebagai Tahun Hari Jadinya. Kenapa? Mengejar momentum itu jawabannya. Selain juga eksistensi nama. Tahun 1293 yang paling dekat dengan surat Paraton, 1275. Di tahun tersebut nama Tuban telah eksis di Panggung sejarah. Alasan terakhir adalah memahat kepahlawanan (dianggap pahlawan) Ronggolawe demi melahirkan rasa kebanggaan bagi masyarakat Tuban. Semuanya pada akhirnya kembali pada Keputusan Politik. Bagaimana dengan Jember?
Jember tidak punya sumber tertulis semacam prasasti. Di abad 13 Jember juga tidak memiliki tokoh semacam Ronggolawe. Tapi bukan berarti kita bisa memvonis rakyat Jember tidak bangga dengan Hari Jadinya. Itu yang harus menjadi pertimbangan manakala ada yang ingin merekonstruksi Hari Jadi Kota Jember.
Sejarah membuktikan, pemikiran kaum menengah dan kaum elit seringkali berbeda dengan rakyat sebagai arus bawah. Pandangan se-ideal apapun seringkali kandas hanya karena tidak ada komunikasi dengan “rakyat jelata”.
Alangkah lebih bijaksananya bila kita menggali lebih dalam (saja) tentang apa2 yang bisa membanggakan warga Jember menyangkut ke-Jember-an nya. Saya rasa itu lebih menyenangkan. Mari kita meneliti dan mencari data bareng2 tentang kehidupan di Jember tempoe doeloe. Apa dan Bagaimana pola pikir dan gaya hidupnya. Setidaknya itu bisa dijadikan parameter pada saat kita (warga jember) ingin bergaya ala Jember.
Para netter, bagaimana dengan anda? Ingin bergaya cara Jember? Oke saya kasih bocorannya (kedepan InsyaAllah akan saya artikelkan). Lilitkan serbet / bandana di leher anda. Karena itu yang dilakukan oleh kaum buruh perkebunan Jember tempo dulu untuk mengantisipasi polusi aroma. Selain juga Jember tempo dulu teramat sangat berdebu, tidak seperti sekarang. Masih penasaran? Doakan saja saya tidak lupa untuk mempostingnya, hehe..
Para netter, terima kasih banyak..
Panarukan tempoe doeloe
Para netter, tahukah anda bahwa Raja Hayam Wuruk pernah ke Panarukan? Pada tahun 1359 tepatnya. Wah, kalau lewat darat berarti melewati Jember dong? Lewat patrang terus ke Arjasa, Jelbuk dan seterusnya. Lewat depan rumah enggak ya? Hehe.. Ada apa dengan Panarukan tempo dulu sampai2 Hayam Wuruk “len jelenan” kesana? Saya dapatkan data tentang Panarukan ini dari tulisan ilmiahnya Mbak / Ibu Cholifa
Jurusan Arkeologi Universitas Udayana. Oke saya tulisan kembali untuk anda dengan sedikit edit.
Panarukan tempo dulu adalah salah satu pelabuhan internasional yang strategis. Terletak di sebelah Pantai Utara Jawa Timur. Sebagai salah satu bandar kuno telah mempermainkan peranannya sejak berabad-abad yang lampau. Pada masa Kerajaan Majapahit Panarukan sangat terkenal sebagai kota pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Panarukan mempunyai kedudukan lebih penting karena terletak pada tepi jalan perdagangan yang lebih ramai. Ini mungkin menjadi alasan mengapa raja dan petinggi-petinggi Kerajaan Majapahit sering singgah di Panarukan.
Panarukan saat ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Letak Kabupaten Situbondo, di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Kabupaten Situbondo adalah 1.638,50 Km². Hampir keseluruhan terletak di pesisir pantai dari Barat ke Timur, bentuknya memanjang kurang lebih 140 km.
Panarukan dahulu merupakan bagian dari Keresidenan Besuki. Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah “Kabupaten Panarukan” dengan ibukota Situbondo. Pada masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (± tahun 1808-1811 M) membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan “ Jalan Anyer – Panarukan “.
Pada masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± tahun 1972 M) Kabupaten Panarukan kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo, dengan ibukota tetap di Situbondo
Kawasan pelabuhan Panarukan berada di Pedukuhan Pesisir Kilensari Kecamatan Panarukan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi pelabuhan Panarukan kurang lebih 8 km ke arah barat. Lokasi pelabuhan terletak di pinggir laut dan dekat dengan jalan raya sehinggga dapat dijangkau dengan mudah.
Sejak abad XVI Panarukan sudah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka di Jawa Timur. Fungsi pelabuhan Panarukan semakin tampak yakni pada sekitar abad XIX tatkala daerah Jember dan Bondowoso dijadikan sebagai sentra area penanaman cash crop production, khususnya tanaman tembakau, kopi, tebu dan produk-produk perkebunan yang lain. Di pelabuhan Panarukan inilah tempat untuk menimbun, menyimpan, dan mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri.
Pelabuhan Panarukan didirikan oleh salah seorang Ondemer terkemuka di kawasan Besuki yakni George Birnie pada tahun 1890-an dengan nama Maactschappij Panaroekan.
Pelabuhan Panarukan erat hubungannya dengan aktivitas serta perkembangan PT. Djakarta Lloyd sub. Cab Panarukan dahulu Panaroekan Maatscappij yang didirikan pada tahun 1886. Maka sejak tahun pendirian tersebut pelabuhan Panarukan sudah dikenal pasaran dunia atau Eropa melalui ekspor komoditi gula, kopi, tembakau, karet, dan jagung. Di pelabuhan Panarukan juga terdapat lori yang menghubungkan stasiun kereta api sampai dermaga. Kira-kira sepanjang ± 1 Km. Untuk angkutan tembakau dan kopi dari Jember dan Bondowoso lebih murah dan cepat dengan jasa kereta api sampai Panarukan.
Sejak awal abad XIX pihak pemerintah kolonial menerapkan kebijakan ekonomi the system of onterprice (sistem pembangunan perusahaan atau Industri) sebagai pengganti the cultivation system (sistem pengolahan bahan). Dampak kebijakan politik ekonomi itu menyebabkan banyak berdirinya perusahaan perkebunan. Salah satu daerah yang berkembang sebagai akibat kebijakan itu ialah daerah Bondowoso dan Jember. Kedua daerah ini terletak di bagian pedalaman yang cocok untuk penanaman komoditi ekspor. Namun pada waktu itu permasalahan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan ialah sulitnya mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri, karena kedua derah tersebut jauh dari pelabuhan. Untuk mengatasi masalah tersebut George Bernie, pemilik NV LMOD (landbouw Matscapay Out Djember) yakni salah seorang penguasa perkebunan terbesar di daerah ini berinisiatif untuk membangun pelabuhan di Panarukan dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan. Gagasan untuk membangun pelabuhan Panarukan terealisasi pada tahun 1897 dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan yang berjarak 98 km dibuka pada tanggal 1 Oktober 1897. Untuk itu Bernie bekerjasama dengan Stoomvaart Matscapien Nederlandsch dengan mendirikan Matscapay panaroekan. Sejak berdirinya perusahaan pelabuhan ini semua hasil perkebunan yang berasal dari Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan Panarukan sendiri ditimbun di gudang-gudang di sekitar pelabuhan kemudian diangkut dari pelabuhan Panarukan ke luar negeri terutama ke Bremen (Jerman) dan Rooterdam (Belanda).
Para netter, ada benang merah yang dapat diambil oleh warga jember menyangkut tulisan diatas. Bahwa sudah sejak awal pertumbuhannya (Abad XIX Masehi), Jember sudah memiliki kedekatan dengan Panarukan. Hal ini terbukti dengan pengangkutan hasil2 perkebunan lewat Panarukan.
Gitu aja ya para netter, kalau ingin tulisan yang lebih lengkap, silahkan kunjungi www.matabumi.com. Saya dapatnya sumber ini dari sana soalnya.
Terima kasih
NB : Terima kasih yang sebesar besarnya buat Mbak / Ibu Cholifa, atas tulisannya yang berjudul Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan Jawa Timur. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan, Amin..
Kenapa Di Jember berceceran benda2 jaman kerajaan?
Dulu saya sempat berpikir kalau Jember adalah bekas reruntuhan kerajaan. Tapi itu pemikiran saat saya masih di bangku SMA. Kenapa saya berpikir seperti itu? Karena yang saya tahu Jember punya peninggalan sejarah berupa kuburan batu, batu kenong dan menhirnya.Apalagi beberapa waktu kemarin ketambahan penemuan baru. Di Ambulu telah ditemukan batu bata merah ukuran besar. Di dusun Gondosari desa Tamansari kecamatan Wuluhan tepatnya. Disinyalir batu bata merah tersebut adalah peninggalan Majapahit (Budiono : Dosen Sastra UJ).
Kalau memang Jember adalah bukan bekas reruntuhan kerajaan, lalu kenapa ada benda2 peninggalan sejarah yang berceceran disini? Jawabannya singkatnya adalah karena Jember diapit oleh beberapa kerajaan besar. Dari pra colonial sampai jaman penjajahan. Dari sini saya ajak anda untuk berpikir bahwa Jember adalah daerah transit kerajaan2 tersebut. Contoh pada jaman kerajaan Blambangan berselisih paham dengan Majapahit. Kemudian terjadi perang yang dikenal dengan nama Perang Paregreg. Perang ini terjadi tahun 1401 M sampai 1406 M. Pemicunya adalah karena perebutan kekuasaan. Perang ini juga melahirkan cerita sejarah tentang pertempuran antara DamarWulan (utusan Majapahit) dan MinakJinggo pemimpin Blambangan.
Terlepas dari cerita tersebut, anda mungkin sudah bisa menggambarkan posisi Jember dalam perang paregreg tersebut. Jember tepat ada di tengah medan perang. Meskipun abad 14 - 15 Jember masih unpopulated dan terisolasi oleh hutan yang lebat, tapi Jember adalah satu2nya wilayah yang harus dilewati. Misalnya Majapahit (Mojokerto dan sekitarnya) akan menggempur kerajaan Blambangan (Banyuwangi), maka pilihannya ada dua. Lewat laut apa melalui rute darat. Kalau darat ya mau nggak mau menembus hutan belukar Jember.
Padahal perangnya bukan hanya itu. Sebelum paregreg ada perang Nambi. Bermula dari hubungan diplomatik yang tidak harmonis antara Blambangan dengan Majapahit mengobarkan perang Nambi pada tahun 1316. Setelah itu ada perang Sadeng tahun 1331. Masih antara Blambangan dan Majapahit. Baru tujuh puluh tahun berikutnya muncul perang paregreg. Perang paling dahsyat daripada perang sebelumnya.
Nah para netter, dari contoh kasus diatas saja kita bisa menyimpulkan kenapa di Jember ada tercecer peninggalan seperti batu kenong, kuburan batu dan menhir. Selain juga pernah ditemukan alat2 perang didaerah Biting arjasa berbahan perak perunggu tembaga dan manik2 emas (sumber : Bapak Rohim).
Itu dulu para netter, jumpa lagi di artikel depan. Masih tentang Jember, Kota penuh inspirasi..
Terima kasih..
